Pada Tanggal 13 Februari s.d. 13 Maret 2012, telah dilaksanakan PKL Mahasiswa Agribisnis UNISMA di Taman Buah MEKARSARI dan Agrowisata PASIR MUKTI, Citeureup Bogor. Kegiatan PKL ini bertujuan untuk membangun pemahaman dan wawasan wiraswasta agribisnis. Secara keseluruhan peserta PKL ini berjumlah 11 orang. Hasil wawancara dengan Ketua Program Studi Agribisnis UNISMA Bekasi (Ir. Ahya Kamilah), mengatakan bahwa " ... sesuai dengan visi program studi maka aktivitas kurikuler dan non kurikuler yang diselenggarakan oleh program studi senantiasa diarahkan untuk terfokus pada salah satu dari 3 (tiga) elemen penting, yakni : Ketahanan Pangan, Pertanian Organik, dan Kewirausahaan. Sehingga tema dari PKL ini adalah terkait dengan salah satu dari ketiga elemen dimaksud, yaitu kewirausahaan...", demikian hal ini disampaikan oleh Ketua Program Studi Agribisnis UNISMA Bekasi. Sementara itu Dekan FAPERTA UNISMA Bekasi (Is Zunaini Nursinah, Dra., M.Si.) meyakini bahwa Program Studi Agribinis UNISMA Bekasi memiliki kapasitas akademik yang mendukung, sejajar dengan program studi agribisnis lainnya di Indonesia, untuk memberikan kontribusi terhadap tema pembangunan pertanian di Indonesia, yakni terfokus pada "food security" (swasembada/swasembada berkelanjutan untuk 5 komoditi pangan), "sustainability" (keberlanjutan pembangunan pertanian), dan "entrepreneurship" (membangun ekonomi bangsa melalui tumbuh kembangnya kewirausahaan).
Sharing about our community, information, and knowledge of agribusiness
Labels
Showing posts with label Activities. Show all posts
Showing posts with label Activities. Show all posts
Friday, February 24, 2012
Kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) PS Agribisnis UNISMA
Friday, December 9, 2011
Kerjasama Kegiatan antara BSR, BCL, dan Program Studi Agribisnis UNISMA
Sebuah kerjasama kegiatan antara Program Studi Agribisnis UNISMA, BSR (Bekasi Social Responsibility), BCL (Bekasi Cinta Lingkungan), dan DPPPJU Kota Bekasi telah dilakukan dalam bentuk “Gerakan Penghijauan Jalan Cut Meutia Kota Bekasi”. Kegiatan ini terwujud berkat adanya Dana CSR Tahun 2010 dari Bank Jabar Banten (BJB) yang diserahkan sepenuhnya kepada BSR, sebagian dialokasikan kepada BCL untuk 3 (tiga) kegiatan Penataan dan Perbaikan Taman Cut Meutia, Penghijauan sepanjang Jalan Cut Meutia, dan Pemasangan Plank Kebersihan Lingkungan dan Penghijauan. Kegiatan ini berlangsung selama Bulan Juni s.d. Desember 2011.
Dekan Fakultas Pertanian UNISMA (Is Zunaini, Dra., M.Si.) mengerahkan sejumlah mahasiswanya untuk mengikuti dan mendukung kegiatan ini, menyatakan bahwa : “Bagi kami, keterlibatan sivitas akademika Program Studi Agribisnis UNISMA pada kegiatan ini merupakan wujud pengabdian kepada masyarakat. Kami bersyukur bahwa salah seorang dosen tetap kami, aktif berperan untuk organisasi BSR, selaku Sekretaris BSR (yakni : H. Budiyono), demikian pula salah satu rekan sejawat kami di BCL (Hidayat Tri Sutarjo, Ir., M.M.) juga selalu melibatkan peran kampus dalam kegiatan-kegiatannya, dan yang lebih membanggakan kami adalah bahwa alumni UNISMA (Drs. H. Makbullah) juga saat ini menjabat selaku Kepala Dinas di DPPPJU Kota Bekasi, sehingga ketiga lembaga itu dapat bergandengan tangan dengan sivitas akademika Program Studi Agribisnis UNISMA dalam pengelolaan taman dan penghijauan di Kota Bekasi”. Lebih lanjut disampaikan oleh Dekan Fakultas Pertanian UNISMA bahwa Program Studi Agribisnis UNISMA memiliki visi yang terkait dengan 3 (elemen) penting, yakni mengembangkan wirausaha agribisnis (entrepreneurship), konsep pembangunan berwawasan lingkungan (sustainability), dan ketahanan pangan (food security). Dalam hal ini, aktivitas pengabdian sivitas akademika Program Studi Agribisnis UNISMA melalui gerakan penghijauan dan penataan taman sangat relevan dengan konep pembangunan berwawasan lingkungan. Sebuah kota yang memperhatikan taman-taman di wilayahnya dan melakukan gerakan penghijauan berarti masyarakat kota tersebut memiliki kepedulian tinggi terhadap konsep pembangunan berwawasan lingkungan.
Sivitas dosen Program Studi Agribisnis UNISMA sangat mengkhawatirkan terhadap kondisi ruang hijau di Kota Bekasi. Kondisi ruang hijau yang berfungsi sebagai sempadan sungai bila tidak diambil langkah-langkah yang strategis, akan mempercepat hilangnya ruang hijau kota akibat terpenetrasi oleh kegiatan terbangun. Ini terlihat jelas pada sempadan sungai yang berada di pusat Kota Bekasi yang sebagian besar sudah berganti menjadi daerah terbangun, sehingga menimbulkan permasalahan baru pada saat meluapnya sungai di musim hujan. Ruang terbuka hijau di Kota Bekasi perlu diperluas proporsinya dan diarahkan pada pengembangan ruang hijau kota berupa hutan kota dan taman kota serta ruang hijau yang diperuntukan bagi resapan air atau folder air.
Kawasan lindung di Kota Bekasi meliputi 3 (tiga) kelompok, yakni kawasan resapan air (Karang Kitri dan lahan kritis di Kelurahan Sumur Batu), sempadan sungai (Kali Cikeas, Kali Cileungsi, Kali Bekasi, Kali Sunter, dan Bantaran Sungai Cikiwul), dan daerah sekitar situ (Situ Rawa Lumbu, Situ Rawa Gede, dan Situ Pulo). Upaya untuk mempertahankan kawasan lindung (kawasan resapan air, sempadan sungai, dan daerah sekitar situ) untuk mempertahankan fungsi lingkungan hidup semakin berat dihadapkan pada kebutuhan dan keputusan yang lebih mengakomodasi pengembangan kawasan budidaya (permukiman dan ruang investasi). Upaya rehabilitasi dan konservasi terhadap kawasan lindung semakin pesimis dihadapkan pada perilaku sebaliknya yakni semakin meluasnya konversi kawasan tidak terbangun menjadi kawasan budidaya (rumah, ruko, mall, dan sarana bisnis lainnya).
Saturday, September 17, 2011
Pelatihan Pembuatan Hidroponik, Verticulture, dan Kompos
Taman Wisata Mekarsari merupakan salah satu pusat pelestarian keanekaragaman hayati buah-buahan tropika terbesar di dunia, khususnya jenis buah-buahan unggul yang dikumpulkan dari seluruh daerah di Indonesia, sekaligus merupakan tempat penelitian budidaya (agronomi), pemuliaan (breeding), dan perbanyakan bibit unggul untuk kemudian disebarluaskan kepada petani dan masyarakat umum. Taman wisata ini berlokasi di Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Taman seluas 264 hektar ini dilengkapi dengan sarana wisata untuk wisatawan nusantara maupun mancanegara. Wisata di tengah taman buah didukung oleh berbagai wahana yang mendekatkan pengunjung kepada alam, di antaranya: Family Garden, Rekreasi Danau (20 ha), Baby Zoo, Rusa Tutul, Garden Center, Greenhouse Melon, Outbound, Bunga Bangkai, Kids Fun Valley, Menara Pandang, dan Bangunan Air Terjun (Puri Tirto Sari). Kegiatan-kegiatan yang menjadi favorit pengunjung antara lain: Company Gathering, Piknik Keluarga, Wisata Kebun Buah/Sayur, Barbeque, Senam Pagi, dan Fruitwalk (jalan-jalan di kebun buah).
Pada kesempatan lain, saat salah seorang dosen Program Studi Agribisnis UNISMA bertemu dengan staf Taman Wisata Mekarsari, di Jakarta, dibahas rencana tindaklanjut rintisan kerjasama yang dapat dilakukan antara Program Studi Agribisnis UNISMA dan Taman Wisata Mekarsari, khususnya berkaitan dengan rencana pengembangan yang dapat dilakukan secara bersama untuk memperkuat potensi bisnis Tanaman Hias di Kota Bekasi.
Tuesday, August 3, 2010
Kerjasama Kegiatan antara Program Studi Agribisnis UNISMA dengan K3S Kota Bekasi dalam Pelatihan Komposting
Sebuah kerjasama kegiatan Program Studi Agribisnis UNISMA dengan K3S Kota Bekasi dilakukan pada Tanggal 3 Agustus 2010, di kampus UNISMA Bekasi, yakni kegiatan pelatihan pembuatan pupuk kompos, dalam rangka meningkatkan kualitas lingkungan hidup di Kota Bekasi. Kegiatan ini diisi oleh narasumber dari Sivitas Dosen Program Studi Agribisnis UNISMA (Ridwan Lutfiadi, Ir. M.T.) dan pembicara dari K3 S Kota Bekasi. Para peserta terdiri dari pengurus organisasi sosial (ORSOS) se-Kota Bekasi, para siswa SMA dan guru SMA se-Kota Bekasi. Diharapkan melalui kegiatan ini para pengurus ORSOS dapat menerapkan keahliannya dalam memberikan penyuluhan kepada warga Kota Bekasi atau juga dalam melakukan kegiatan pengabdian organisasinya melalui kegiatan pengelolaan dan pelestarian lingkungan hidup. Demikian juga bagi peserta Guru dan Siswa SMA se-Kota Bekasi, yang diharapkan dapat membentuk dan membangun kepedulian dalam pengelolaan dan pelestarian lingkungan hidup, melalui pembuatan kompos di lingkungan tempat tinggalnya masing-masing. Terutama bagi siswa SMA se-Kota Bekasi, pelatihan ini diharapkan mampu memberikan pengetahuan tentang bagaimana caranya memanfaatkan sampah di lingkungannya untuk dijadikan kompos.
Salah satu dari pola hidup hijau yang dapat kita laksanakan adalah mengelola sampah organik rumah tangga, dengan membuatnya menjadi kompos. Kompos adalah pupuk yang dibuat dari sampah organik. Pembuatannya tidak terlalu rumit, tidak memerlukan tempat luas dan tidak memerlukan banyak peralatan dan biaya. Hanya memerlukan persiapan pendahuluan, sesudah itu kalau sudah rutin, tidak merepotkan bahkan selain mengurangi masalah pembuangan sampah, kompos yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sendiri, tidak perlu membeli. Kompos berguna untuk memperbaiki struktur tanah, zat makanan yang diperlukan tumbuhan akan tersedia. Mikroba yang ada dalam kompos akan membantu penyerapan zat makanan yang dibutuhkan tanaman. Tanah akan menjadi lebih gembur. Tanaman yang dipupuk dengan kompos akan tumbuh lebih baik. Hasilnya bunga-bunga berkembang, halaman menjadi asri dan teduh. Hawa menjadi segar karena oksigen yang dihasilkan oleh tumbuhan.
Sampah organik secara alami akan mengalami peruraian oleh berbagai jenis mikroba, binatang yang hidup di tanah, enzim dan jamur. Proses peruraian ini memerlukan kondisi tertentu, yaitu suhu, udara dan kelembaban. Makin cocok kondisinya, makin cepat pembentukan kompos, dalam 4 – 6 minggu sudah jadi. Apabila sampah organik ditimbun saja, baru berbulan-bulan kemudian menjadi kompos. Dalam proses pengomposan akan timbul panas karena aktivitas mikroba. Ini pertanda mikroba mengunyah bahan organik dan merubahnya menjadi kompos. Suhu optimal untk pengomposan dan harus dipertahankan adalah 45-65 oC. Jika terlalu panas harus dibolak-balik, setidak-tidaknya setiap 7 hari.
Di dalam rumah (ruang keluarga, kamar makan) dan di depan dapur disediakan 2 tempat sampah yang berbeda warna untuk sampah organik dan sampah non-organik. Diperlukan bak plastik atau drum bekas untuk pembuatan kompos. Di bagian dasarnya diberi beberapa lubang untuk mengeluarkan kelebihan air. Untuk menjaga kelembaban bagian atas dapat ditutup dengan karung goni atau anyaman bambu. Dasar bak pengomposan dapat tanah atau paving block, sehingga kelebihan air dapat merembes ke bawah. Bak pengomposan tidak boleh kena air hujan, harus di bawah atap.
Cara Pengomposan :
- Campur 1 bagian sampah hijau dan 1 bagian sampah coklat.
- Tambahkan 1 bagian kompos lama atau lapisan tanah atas (top soil) dan dicampur. Tanah atau kompos ini mengandung mikroba aktif yang akan bekerja mengolah sampah menjadi kompos. Jika ada kotoran ternak ( ayam atau sapi ) dapat pula dicampurkan .
- Pembuatan bisa sekaligus, atau selapis demi selapis misalnya setiap 2 hari ditambah sampah baru. Setiap 7 hari diaduk.
- Pengomposan selesai jika campuran menjadi kehitaman, dan tidak berbau sampah. Pada minggu ke-1 dan ke-2 mikroba mulai bekerja menguraikan membuat kompos, sehingga suhu menjadi sekitar 40oC. Pada minggu ke-5 dan ke-6 suhu kembali normal, kompos sudah jadi.
- Jika perlu diayak untuk memisahkan bagian yang kasar. Kompos yang kasar bisa dicampurkan ke dalam bak pengomposan sebagai activator.
Keberhasilan pengomposan terletak pada bagaimana kita dapat mengendalikan suhu, kelembaban dan oksigen, agar mikroba dapat memperoleh lingkungan yang optimal untuk berkembang biak, ialah makanan cukup (bahan organic), kelembaban (30-50%) dan udara segar (oksigen) untuk dapat bernapas. Sampah organik sebaiknya dicacah menjadi potongan kecil. Untuk mempercepat pengomposan, dapat ditambahkan bio-activator berupa larutan effective microorganism (EM) yang dapat dibeli di toko pertanian.
Apabila setiap rumah tangga melakukan pemilahan sampahnya: yang organik dijadikan kompos, yang non-organik disedekahkan kepada pemulung, maka pemerintah tinggal mengelola sisanya yang 10% saja,yang tidak dapat didaur ulang. Alangkah senangnya pemulung, kalau penghuni rumah sudah memilah sampahnya, sehingga mereka tinggal mengambil kertas, plastik, dsb. yang tidak dikotori sisa makanan, tanpa mengobrak-abrik bak sampah (maaf) berebutan dengan anjing dan kucing. Jam kerjanya akan lebih pendek, uang yang diperoleh akan lebih banyak.
Pembuatan kompos ini dapat pula dilakukan secara kolektif, apabila keadaan tidak memungkinkan. Misalnya perumahan padat penduduk, atau apartemen. Pengelolaannya dapat diserahkan kepada RW atau pihak swasta. Namun masing-masing rumah tangga tetap harus melakukan pemilahan sampahnya. Sehingga tidak perlu lagi ada TPA yang memerlukan tanah luas dan menimbulkan masalah pencemaran, bahaya longsor, pendangkalan sungai, penyakit dsb.
Sumber materi informasi : http://hasanpoerbo.blogspot.com/2006/05/mari-membuat-kompos-skala-rumah-tangga.html
Subscribe to:
Posts (Atom)





